Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Apa itu Air Alkali ?

Apa itu Air Alkali?
Alkali = basa. Air alkali adalah air yang bersifat basa atau mempunyai pH di atas 7.

Mengapa Air Alkali?
Tubuh kita membutuhkan air. Tapi air seperti apa yang paling dibutuhkan tubuh? Air pH netral baik untuk tubuh. Tetapi problemnya, hasil pembakaran dan racun yang ada dalam tubuh kita bersifat asam. Jadi kita membutuhkan air yang bersifat basa / air alkali.

Bagaimana mendapatkan air alkali?
- Teknologi sudah menciptakan mesin air alkali portable dan kecil. Melalui proses berbasis elektrolisis air pereaksi hidrogen dan mineral di dalamnya. Air yang didiamkan selama beberapa menit langsung berubah menjadi basa. Batu mineral di dalamnya harus diganti setiap dua bulan sekali sejak pertama kali bereaksi dengan air.
- Memlaui proses berbasil elektrolisis air ini  mampu meningkatkan kualitas air minum biasa menjadi air alkali yang kaya mineral dan ion hidrogen aktif. Ion hidrogen aktif menghasilkan antioksidan alami yang dapat membangkitkan energi, melindungi sel-sel tubuh secara optimal dari ancaman radikal bebas.


Sekilas Tentang pH Air
pH (potential of Hydrogen/derajat keasaman) merupakan angka yang menunjukkan kadar asam/asidikbasa/alkali suatu larutan, di mana nilai netralnya (7) ada dalam kadar seimbang kedua molekul asam dan basa. Angka lebih rendah dari 7 dikenal dengan keadaan asam sedangkan lebih dari 7 (diantara skala 0-14) bersifat  basa.

Air bisa bersifat asam atau basa dimana yang disebut dengan soft water biasanya bersifat asam sedangkan hard water bersifat basa. Air murni sendiri sebenarnya memiliki pH netral, namun pada dasarnya, air yang kita dapatkan sehari-hari di lingkungan rumah (air pet/tap water) memiliki pH mendekati 8 dan bersifat basa, dan hal ini diakibatkan dari beberapa proses kimiawi yang dilakukan dalam penyaringannya.

Walaupun tak bertendensi membahayakan kesehatan, beberapa teori yang muncul kemudian memilih pendekatan pada air murni dengan pH netral, dengan beberapa produk air mineral murni tanpa proses kimiawi buatan, atau menyaring dengan berbagai filter untuk menyisihkan berbagai bahan kimia tersebut seperti misalnya kaporit, pencemaran pestisida dan sebagainya.

Namun ternyata dari berbagai teori lainnya, salah satu proses yang berperan dalam penyakit-penyakit degeneratif dan penuaan dini ada pada proses keracunan yang disebut asidifikasi, salah satunya dari gaya hidup yang salah dan konsumsi makanan yang kurang sehat (termasuk MSG, minuman berkarbonat, terlalu banyak kafein dan sebagainya), dimana pH darah normal sekitar 7.4 tak lagi bisa dipertahankan sehingga menyebabkan berbagai proses tersebut.

Menurut beberapa ahli di balik teknologi ini, proses tersebut bisa diatasi dengan konsumsi air yang bersifat alkali/basa untuk menetralisir keadaan tadi.

Air Alkali
Jauh sebelum istilah ini marak, para peneliti telah menemukan adanya teknologi air dengan kandungan alkali tinggi yang kemudian disebut dengan air alkalin, alkali atau air beralkali, namun beberapa produk yang kemudian muncul membuat nama Air Alkali (Alkaline Water) menjadi salah satu produk yang banyak dikenal.

Seperti air beroksigen di mana air tersebut bukanlah air yang biasa kita jumpai di sekitar kita, air alkali ini terpusat pada sistem keseimbangan pH (asam-basa) tubuh sendiri. Prosesnya diperoleh dari mekanisme elektrolisis serta ionisasi yang menggunakan filter-filter tertentu untuk menghasilkan produk tersebut.

Letak keuntungannya, air alkali ini dapat menjadi sumber antioksidan yang menurut beberapa ahli cukup signifikan seperti mineral-mineral yang bersifat alkali, elektrolit yang dibutuhkan tubuh, oksigen yang lebih padat, rantai molekul lebih kecil hingga ion-ion negatif yang juga diperlukan tubuh.

Proses elektrolisis tadi akan memisahkan air biasa (dalam format kimiawi H2O) menjadi dua molekul
berbeda, satunya adalah molekul HO yang bersifat asam (asidik) sedangkan satunya lagi adalah molekul OH yang bersifat alkalis. Jika molekul HO selama ini digunakan sebagai obat dengan cara topical (pengolesan) pada beberapa jenis terapi, molekul terakhir yang disebut ini merupakan air dalam bentuk konsumsi minum.

Dasar teori yang menjadi pertimbangan para penemunya pada awalnya berasal dari pengaplikasian kimiawi tubuh dimana tubuh kita memerlukan baik asam dan basa bagi kelangsungan metabolisme di dalamnya, termasuk dalam perbaikan fungsi sel.

Mengkonsumsi terlalu banyak makanan bersifat asam yang lebih sering dijumpai seperti minuman bersoda yang termasuk di dalamnya mereka anggap dapat menurunkan pH alami tubuh ke level asidik/asidosis yang berbahaya. Dengan adanya penyeimbangan dari bahan beralkali tersebut, tubuh akan lebih mudah kembali ke pH normalnya.

Selain sifat terhadap pH berikut keuntungan antioksidan tadi, air alkali ini juga memiliki molekul lebih kecil yang lebih mudah diserap oleh tubuh sehingga mempermudah proses rehidrasi sel-sel tubuh akibat berbagai aktifitas yang kita lakukan.

Dasar teori yang sangat menarik serta berbasis ilmiah ini, sayangnya, sering keburu dituding dengan cara-cara pemasaran kebanyakan produk sebagai produk yang dipasarkan secara MLM (Multi Level Marketing) sehingga sering dianggap sebuah propaganda dagang.

Sebagian ahli mengatakan pada dasarnya sama dengan jenis-jenis air alkali lainnya yang sudah terproses melalui suatu proses ionisasi, namun kemudian beberapa produsennya, tentu dengan didasari berbagai riset, menemukan bahwa ada range dari proses ionisasi negatif yang berbeda diantara beberapa jenis produk yang kini beredar, dan ini bergantung juga dari jalur prosesnya serta teknologi berbagai tipe mesin ionisasi yang digunakan.

Mitos atau Fakta?
Penemuan para ahli di Departemen Kesehatan Jepang tahun 80an ini sekilas memang terlihat sangat menjanjikan sebagai inovasi terusan air-air alkali, terutama dengan perkembangannya yang cukup pesat di negara-negara maju seperti AS.

Hingga saat ini ada sebuah produk yang dianggap dan diakui sebagai produk ofisial bagi pemerintah disana, namun pada dasarnya setiap proses ionisasi yang dilakukan tiap-tiap produk tetap akan memberikan hasil yang secara mendasar sama, yakni air alkali tersebut.

Secara teoritis pula, dalam ilmu kedokteran, bahwa implkasinya pada tujuan keseimbangan pH demi metabolisme yang optimal dari tubuh manusia cukup dapat diterima.

Beberapa penelitian lain juga ada yang mendukung teori ini sebagai hal baru yang masih sampai pada tahap penelusuran, seperti yang pernah dimuat dalam sebuah riset yang menemukan bahwa gaya hidup masyarakat di Okinawa, Jepang, bisa dijadikan patokan untuk hidup sehat.

Di balik jenis-jenis makanan tinggi protein yang mereka konsumsi, para periset ini juga menemukan bahwa kandungan air di lautan sekitarnya memiliki pH lebih tinggi (alkalis). Tingginya kandungan antioksidan dalam kadar pH lebih alkalis tadi juga mereka yakini akan lebih baik dalam mencegah penumpukan radikal bebas termasuk pada pembuluh darah, yang dibuktikan dari daya melarutkan bahan-bahan kimia lain secara jauh lebih cepat termasuk bahan-bahan seperti nikotin, MSG, minyak dan sebagainya.

Namun lagi, sebuah teknologi kesehatan yang tergolong baru mungkin masih memerlukan banyak tahapan pembuktian dari keuntungan yang dijanjikan.

Sebagaimana air beroksigen yang kini mulai banyak mendapat sisi kontroversi dari beberapa penelitian akan efek samping yang tak diinginkan, teknologi air alkali ini juga agaknya masih memerlukan banyak penelusuran untuk menilai keseluruhan fungsinya dari berbagai aspek yang ada.

Begitupun, dari banyak uraian yang telah dipublikasikan, sebuah penemuan teknologi yang memiliki sisi positif bisa jadi sesuatu yang menjanjikan terhadap sebuah harapan akan kesehatan, atau paling tidak sudah membuka banyak celah baru untuk penemuan-penemuan selanjutnya.
* dr. Daniel Irawan